PANDUAN · BISNIS & UMKM

Cara menghitung margin dan markup tanpa tertukar

Margin dan markup sama-sama memakai selisih antara harga jual dan harga pokok, tetapi pembaginya berbeda. Kekeliruan ini bisa membuat target keuntungan usaha meleset meski perhitungan rupiahnya terlihat benar.

Buka Kalkulator Margin & Markup →

Mulai dari laba kotor per unit

Laba kotor per unit = harga jual − harga pokok. Harga pokok sebaiknya mencakup biaya produk yang relevan, bukan hanya bahan baku. Misalnya harga pokok satu barang Rp70.000 dan harga jualnya Rp100.000, laba kotornya Rp30.000.

Rumus margin dan markup

Margin = laba kotor ÷ harga jual × 100%. Pada contoh tadi: Rp30.000 ÷ Rp100.000 × 100% = 30%.

Markup = laba kotor ÷ harga pokok × 100%. Hasilnya Rp30.000 ÷ Rp70.000 × 100% = 42,86%. Angka 30% dan 42,86% bukan dua laba berbeda; keduanya hanya cara membaca selisih Rp30.000.

Menentukan harga jual dari target margin

Jika modal produk Rp80.000 dan target margin kotor 20%, harga jual = Rp80.000 ÷ (1 − 0,20) = Rp100.000. Jangan memakai Rp80.000 × 1,20, karena itu markup 20% dan menghasilkan margin sekitar 16,67%.

Kapan menggunakan masing-masing?

Kesalahan yang sering terjadi

Menamai markup sebagai margin dapat membuat proyeksi keuntungan terlalu optimistis. Kesalahan lain adalah mencampur biaya per unit dengan biaya bulanan, atau menganggap laba kotor sama dengan laba bersih. Jika biaya tetap usaha besar, gunakan juga perhitungan titik impas.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah margin 30% sama dengan markup 30%?

Tidak. Dengan modal Rp70.000 dan harga jual Rp100.000, margin 30% tetapi markup sekitar 42,86%.

Apakah margin boleh negatif?

Boleh. Jika harga jual lebih kecil daripada harga pokok, laba kotor dan margin menjadi negatif.

Coba dengan angkamu sendiri

Gunakan Kalkulator Margin & Markup untuk mencoba skenario yang sesuai. Hasil merupakan simulasi berdasarkan input, bukan jaminan hasil di dunia nyata.

Baca juga